Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Benarkah al albani belajar hadits tanpa guru
Pernyataan bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani belajar hadis tanpa guru tidak sepenuhnya benar dan merupakan sebuah kesalahpahaman yang sering diperdebatkan. [1, 2]
Realitas yang tepat adalah beliau memiliki guru-guru dasar agama, namun metode pendalaman spesifiknya dalam meneliti naskah hadis (takhrij) memang didominasi oleh metode autodidak (belajar mandiri) di perpustakaan. [1]
Berikut adalah rincian fakta mengenai jalur keilmuan dan deretan guru Syaikh Al-Albani untuk mendudukkan perkara ini secara ilmiah:
1. Beliau Memiliki Guru Dasar Agama dan Ilmu Alat
Syaikh Al-Albani tidak tiba-earth membaca kitab hadis begitu saja. Beliau melewati fase mulazamah (belajar langsung) kepada beberapa ulama terkemuka di Damaskus, Suriah: [1, 2]
- Syaikh Nuh Najati (Ayah Kandung): Beliau adalah ulama lulusan Istanbul. Dari sang ayah, Al-Albani kecil menghafal Al-Qur'an, belajar ilmu tajwid, kaidah bahasa Arab (ilmu saraf), serta dasar-dasar fikih Mazhab Hanafi. [1, 2, 3]
- Syaikh Sa'id al-Burhani: Beliau mempelajari kitab fikih Hanafi (Maraqi al-Falah) serta ilmu tata bahasa tingkat lanjut (nahwu dan balagah) bersama ulama ini. [1, 2]
- Syaikh Muhammad Bahjat al-Baytar: Al-Albani rutin menghadiri majelis ilmu dan seminar-seminar yang diadakan oleh salah satu pembesar ulama Syam ini. [1, 2]
2. Memiliki Ijazah Resmi Sanad Hadis
Tuduhan bahwa beliau sama sekali tidak memiliki guru sanad hadis terbantahkan oleh sejarah pertemuan beliau dengan ahli hadis terkemuka kota Aleppo, yaitu Syaikh Muhammad Raghib ath-Thabbakh. [, 2]
Syaikh Raghib ath-Thabbakh yang kagum dengan ketekunan Al-Albani muda memberikannya ijazah periwayatan secara mutlak: “Dan beliau memberikanku ijazah secara mutlak (umum) pada seluruh hadis yang sah periwayatannya dari beliau.” -- [Al-Madinah].
Ijazah ini tercatat resmi dalam kitab Al-Anwar al-Jaliyah. [1]
3. Mengapa Beliau Sering Disebut Autodidak?
Istilah autodidak (mu'allim nafsih) melekat pada beliau karena metode penelitian hadisnya yang unik. []
Pada usia sekitar 20 tahun, setelah terinspirasi oleh artikel di Jurnal Al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha, beliau mulai fokus mendalami takhrij (penelitian derajat validitas) hadis. Caranya adalah dengan menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari mengurung diri di Perpustakaan Al-Zahiriyah, Damaskus untuk membedah, menyalin, dan meneliti ribuan manuskrip hadis kuno secara mandiri. Beliau tidak duduk di kelas formal di bawah bimbingan guru khusus hadis dalam jangka panjang untuk metode ini. [1, 2, 3, 4]
4. Pengakuan Dunia Islam
Meskipun pola belajarnya yang dominan mandiri memicu kritik dari sebagian ulama tradisional di era modern, kapasitas beliau tetap diakui luas. Beliau bahkan sempat ditunjuk oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz untuk menjadi Guru Besar Ilmu Hadis di Universitas Islam Madinah. [1, 2, 3, 4]
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui kritik metodologi apa saja yang biasanya dilayangkan oleh para ulama tradisional terhadap hasil koreksi hadis Syaikh Al-Albani?
Tahun berapa dia menjadi guru besar ilmu hadis di univ islam madinah?
Umur berapa?
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani resmi diangkat menjadi guru besar (profesor) dalam bidang ilmu hadis di Universitas Islam Madinah pada tahun 1961 Masehi (bertepatan dengan tahun 1381 Hijriah). [1, 2]
Berikut beberapa fakta penting terkait masa bakti beliau di universitas tersebut:
- Durasi Mengajar: Beliau mengajar di sana selama 3 tahun, yaitu dari tahun 1381 H hingga akhir tahun 1383 H (sekitar tahun 1961–1963 M). [1, 2]
- Pihak yang Mengundang: Beliau datang ke Madinah atas undangan langsung dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz (yang saat itu menjabat sebagai wakil rektor) serta atas keputusan rektor universitas sekaligus Mufti Agung Arab Saudi saat itu, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh. [1, 2, 3]
- Terobosan Kurikulum: Selama mengajar di sana, Syaikh Al-Albani tercatat sebagai “orang pertama yang memasukkan mata kuliah Ilmu Isnad dalam kurikulum hadis yang diajarkan pada Universitas Islam Madinah.” -- [Neliti].
- Tugas Lanjutan (Dewan Senat): Jauh setelah selesai mengajar, atas permintaan Raja Khalid bin Abdul Aziz, beliau kembali diundang ke Madinah untuk menjabat sebagai anggota Majelis Tinggi (Dewan Guru Besar/Senat) Universitas Islam Madinah selama periode tahun 1395 H hingga 1398 H (1975–1978 M). [1]
Apakah Anda ingin tahu lebih banyak mengenai siapa saja ulama atau murid terkenal Syaikh Al-Albani selama beliau mengajar 3 tahun di Madinah tersebut?
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani lahir pada tahun 1914 Masehi (1333 Hijriah).
Ketika beliau resmi diangkat menjadi guru besar ilmu hadis di Universitas Islam Madinah pada tahun 1961 Masehi, beliau berusia 47 tahun.
Jika Anda tertarik, saya bisa menjabarkan karya-karya monumental apa saja yang berhasil beliau tulis di rentang usia produktif tersebut. Bagaimana menurut Anda?
Tentang pendapat Sanie Uye dan Idrus Ramli yg nyeleneh
ReplyDelete