Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan
Saya ingin mengetahui kelebihan atau kisah keteladanan Syaikh Shalih Fauzan dalam beribadah (seperti halnya Syaikh Utsaimin
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan terkenal memiliki keteladanan yang sangat luar biasa dalam hal ibadah, kedisiplinan waktu, dan keteguhan sikap. Di usianya yang kini telah sepuh (menuju 93 tahun), beliau tetap menunjukkan kekuatan fisik dan spiritual yang membuat orang-orang di sekitarnya kagum.
Berikut adalah beberapa kelebihan dan kisah keteladanan nyata Syaikh Shalih Fauzan yang disaksikan langsung oleh para murid dan jamaahnya:
1. Kedisiplinan Luar Biasa dalam Shalat Berjamaah
- Selalu Tiba Sebelum Azan: Para jamaah Masjid Pangeran Mut'ib di Riyadh bersaksi bahwa Syaikh Shalih Fauzan hampir tidak pernah melewatkan takbiratul ihram bersama imam. Beliau selalu tiba di masjid jauh sebelum azan dikumandangkan untuk melaksanakan shalat sunnah dan membaca Al-Qur'an.
- Tetap Mengimami Shalat di Usia Senja: Meskipun fisiknya sudah melemah karena usia, beliau tetap konsisten berjalan ke masjid dan mengimami shalat lima waktu serta memberikan ceramah setelahnya tanpa terlihat lelah.
2. Konsistensi Menulis dan Mengajar yang Tak Pernah Putus
- Jadwal yang Monoton dalam Kebaikan: Murid-muridnya menceritakan bahwa rutinitas harian Syaikh sangat ketat dan tidak pernah berubah selama puluhan tahun. Waktunya hanya berputar di antara: ibadah di masjid, membaca kitab, menulis buku, menjawab fatwa masyarakat, dan mengajar.
- Mengajar di Tengah Kesibukan Negara: Sebagai anggota Dewan Ulama Senior (Haiah Kibaril Ulama), beliau memiliki agenda dinas yang sangat padat dari kerajaan. Namun, beliau tidak pernah membatalkan kelas kajian gratisnya untuk masyarakat umum di masjid kecuali jika ada udzur syar'i yang sangat mendesak.
3. Ketegasan dalam Al-Haq (Kebenaran) Namun Sangat Lembut Secara Pribadi
- Tegas dalam Masalah Akidah: Orang-orang mengenal beliau sebagai singa dakwah yang sangat tegas, tanpa kompromi, dan berani ketika meluruskan pemahaman akidah yang menyimpang atau syirik melalui lisan dan tulisannya.
- Sangat Santun kepada Orang Awam: Kontras dengan ketegasannya saat berkhotbah, orang-orang yang menemui beliau secara pribadi setelah shalat bersaksi bahwa Syaikh Shalih Fauzan adalah sosok yang sangat ramah, sabar mendengarkan keluhan orang awam, dan memiliki tutur kata yang sangat lembut.
4. Menolak Popularitas dan Pujian
- Sikap Tawadhu (Rendah Hati): Beliau sangat tidak suka dipuji-puji di hadapan publik. Dalam beberapa rekaman video kajiannya, jika ada murid atau penanya yang membuka pertanyaan dengan pujian yang berlebihan kepada beliau, Syaikh Shalih Fauzan akan langsung memotongnya dengan tegas dan meminta mereka langsung masuk ke pertanyaan agama demi menjaga keikhlasan hati.
5. Keberkahan dalam Karya Tulis (Diterima di Seluruh Dunia)
- Para ulama lain mengakui adanya "keberkahan" khusus dalam tangan beliau saat menulis. Kitab-kitab ringkasannya, seperti Al-Mulakhkhas al-Fiqhi (Ringkasan Fikih), ditulis dengan gaya bahasa yang sangat sederhana namun memiliki daya terima yang sangat luas. Kitab tersebut kini diterjemahkan ke puluhan bahasa dan dipelajari oleh jutaan muslim di seluruh dunia sebagai panduan ibadah praktis harian.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui bagaimana isi salah satu fatwa penting Syaikh Shalih Fauzan mengenai ibadah sehari-hari, atau ingin tahu kitab fikih praktis beliau yang mana yang paling cocok dibaca untuk pemula?
Pengakuan Nudzul Dzikri
Berdasarkan ceramah Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam video tersebut, berikut adalah beberapa poin pengakuan nyata mengenai luar biasanya sifat tawadhu (rendah hati) Syaikh Shalih Fauzan yang beliau saksikan sendiri maupun yang diakui oleh para ulama lainnya:
- Mengaku sebagai Orang Miskin Ilmu: Ketika Syaikh Shalih Fauzan ditanya di sebuah majelis tentang bagaimana cara agar seseorang bisa memiliki ilmu seperti beliau dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz, beliau menjawab bahwa untuk meniru Syaikh Bin Baz adalah dengan belajar giat (0:41). Namun, mengenai dirinya sendiri, beliau berkata: "Saya ini hanya orang miskin di dunia ilmu, saya tidak punya apa-apa." (1:26).
- Memposisikan Diri Bukan sebagai Ulama: Dalam majelisnya, jika ada pertanyaan yang tidak beliau ketahui, beliau secara konsisten menjawab, "Lâ adrî, is’alû al-ulama (Saya tidak tahu jawabannya, tolong Anda tanyakan kepada para ulama)." (1:52). Kalimat ini menunjukkan bahwa beliau sama sekali tidak memposisikan dirinya di tingkatan para ulama besar, melainkan hanya seolah-olah orang tua biasa yang mengisi kajian (2:29).
- Menolak Menceritakan Kelebihan Diri Sendiri: Dalam sebuah kajian khusus di kampus Ustadz Nuzul Dzikri yang bertema biografi dan pengalaman hidup Syaikh Shalih Fauzan, kajian tersebut "gagal" mengorek jasa beliau (2:56). Beliau menolak menceritakan pengalaman pribadinya secara mendalam dan hanya menjawab hal-hal normatif atau formalitas saja karena tidak ingin membanggakan diri (4:52).
- Menyebut Jabatannya di Komite Fatwa Hanya "Dipekerjakan": Saat menceritakan riwayat hidupnya, beliau tidak menggunakan kalimat "Saya diangkat menjadi mufti," melainkan memilih frasa bahasa Arab yang berarti "Saya dipekerjakan di komite fatwa." (5:43). Pilihan kata ini dinilai sangat merendah karena kata "dipekerjakan" bisa bermakna luas seperti pekerja kasar biasa (5:54).
- Menolak Memuji Karya Tulis Sendiri: Ketika dipancing untuk menceritakan pengalamannya menulis kitab populer Al-Mulakhkhas al-Fiqhi yang tersebar di seluruh dunia, beliau langsung memotong sang pembawa acara (host) dengan berkata (6:17): "Apakah Anda menginginkan saya memuji-muji karya pribadi saya?" (7:02). Beliau justru melanjutkan bahwa bukunya pasti memiliki banyak kesalahan dan meminta para penuntut ilmu untuk bersedia mengoreksi kekeliruannya (7:17).
- Selalu Menepis Pujian yang Melebihi Kenyataan: Saat dipuji bahwa beliau adalah ulama yang berdakwah keliling penjuru dunia, beliau langsung mengklarifikasi bahwa seumur hidupnya beliau baru pernah keluar negeri satu kali saja, dan itu pun karena tuntutan tugas resmi dari universitas (8:57).
- Tidak Membanggakan Nasab (Garis Keturunan): Sebagai cucu dari seorang ulama besar di zamannya, beliau ditanya bagaimana perasaannya memiliki kakek yang hebat (9:50). Beliau menjawab dengan tegas (10:14): "Apa manfaatnya bagi saya memiliki kakek seperti beliau jika saya sendiri tidak bertakwa kepada Allah?" (10:14).
- Merendah tentang Alasannya Menjadi Dosen Sebelum Lulus S1: Syaikh Shalih Fauzan merupakan sosok yang sangat cerdas hingga sudah dipercaya mengajar mahasiswa S1 sebelum beliau sendiri lulus dari jenjang tersebut (12:28). Ketika ditanya rahasianya, beliau hanya menjawab dengan sangat sederhana: "Saya mengajar sebelum lulus itu semata-mata karena kampus saat itu sedang kekurangan dosen saja." (12:42).
Kisah-kisah ketawadhuan dari Syaikh Shalih Fauzan ini bahkan membuat para profesor dan doktor muda yang hadir dalam kajian tersebut merasa malu, karena menyadari diri mereka yang baru memiliki sedikit karya sudah merasa bangga, sementara ulama sekira beliau justru sangat merunduk (3:52).
Apakah Anda tertarik untuk mendiskusikan makna ketawadhuan dalam menuntut ilmu yang disampaikan di bagian akhir video ini, atau ingin tahu profil ulama lain yang dimentor langsung oleh Syaikh Bin Baz?
Comments
Post a Comment